
Masa depan Asia Pafisik dan juga dunia, bisa jadi akan ditentukan oleh salah satu titik konflik paling panas di dunia, yakni Taiwan. Pulau yang disengketakan selama puluhan tahun oleh Republic of China dan People’ Republic of China ini merupakan garda terdepan dari konvergensi persaingan militer antara China, Amerika Serikat dan Jepang, ketergantungan rantai pasok perdagangan dan kontestasi ideologi politik kapitalis dan komunis. Perang Dunia Ketiga, bisa bermula dari Taiwan.
Pernyataan ini disampaikan oleh Professor Li Chiang Yuan, seorang praktisi militer dan juga akademisi dari National Chengchi University, Taiwan dalam sebuah forum akademik terbuka bertajuk “Asia Pacific at The Crossroads; Navigating Tensions, Threats and the Tussle” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Hukum, Universitas Sulawesi Barat pada Jumat, 12 Desember 2025 di Laboratorium Hubungan Internasional, Universitas Sulawesi Barat, Majene.




Menurut Yuan, eskalasi militer di Selat Taiwan mendekati titik kritis karena terjadi peningkatan aktifitas militer yang luar biasa sejak tahun 2022. China misalnya, telah menempatkan tiga kapal induk yang membawa 50 lebih kapal perusak dan jet jet tempur. China juga telah menempatkan kapal selam pembawa hulu ledak nuklir dan konvensional di perairan Selat Taiwan, serta melakukan latihan militer sepanjang tahun 2022-2025. Amerika Serikat dan Sekutunya seperti Jepang dan Filipina juga melakukan eskalasi militer yang sepadan. Filipina telah membuka empat pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina, Jepang tengah memperbaharui doktrin pasifisnya dengan menyebut “keamanan Taiwan penting untuk keamanan Jepang”, Amerika Serikat meningkatkan penjualan senjata, dan latihan militer bersama di kawasan.
Taiwan sendiri, masih menurut Yuan, telah melakukan reformasi pertahanan dan relokasi anggaran besar-besaran untuk pertahanan wilayahnya. Reformasi yang dilakukan Taiwan seperti memperpanjang wajib militer dari empat tahun menjadi sepuluh tahun bagi pemuda-pemudi Taiwan kemudian mengintegrasikan wajib militer ini kedalam unit pertahanan yang sudah ada, membuat komponen militer meningkat drastis. Kemudian dari sisi pengadaan alutsista militer, Taiwan telah meningkatkan pembelian sebesar 19 Miliar US Dolar sejak tahun 2022.
Acara yang juga diselenggarakan atas kerjasama dengan Center of International Relations and Regional Studies ini mencoba menjawab pertanyaan, apakah perang bisa terjadi di Taiwan? Yuan tidak menjawab secara eksplisit, namun Yuan mengetengahkan sebuah term “uncertainty” karena terdapat tiga kepentingan negara di kawasan, yakni Amerika Serikat, China dan Taiwan itu sendiri. Yuan justru menawarkan pandangan bahwa komunitas Internasional harus mendukung keamanan Taiwan karena terdapat industri microchip yang sangat berharga untuk seluruh dunia.