Home » Project » Menimbang Kemungkinan Perang Skala Besar di Iran

Menimbang Kemungkinan Perang Skala Besar di Iran

Melihat kondisi dimana hasil perundingan di Muscat, Oman dan Geneva, Swiss tidak membawa hasil yang signifikan, sementara masing-masing negara memiliki legal standing position yang sama-sama kuat, dimana Iran tidak akan mungkin menghentikan produksi misil balistik sementara Amerika Serikat sangat menginginkan Iran menghentikan misil balistik, maka kemungkinan perang skala besar antar kedua negara bisa terjadi dalam waktu dekat ini.

Hal ini disampaikan oleh Saomi Rizqiyanto, dosen ilmu Hubungan Internasional Universitas Sulawesi Barat pada acara Webinar Nasional bertajuk “AS-Iran dalam Pusaran Ketegangan Global: Konflik, Diplomasi dan Masa Depan Timur Tengah” pada Sabtu, 14 Februari 2026 melalui Media Daring Zoom. Dalam paparannya, Saomi mengatakan bahwa meskipun di atas kertas, kemampuan militer Amerika Serikat jauh unggul diatas Iran, namun negeri para Mullah ini memiliki kemampuan militer yang tidak bisa disepelekan.

“perlu juga untuk diketahui bahwa Iran merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang tidak mengalami kolonialisme Eropa, bahkan saat imperium Russia dan Ottoman masih berdiri, Persia dibawah dinasti Safavid eksis hingga saat ini” ujar Saomi yang juga direktur Center of International Relations and Regional Studies, Universitas Sulawesi Barat.

Webinar yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia Korwil 5 yang meliputi wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua ini juga menghadirkan pembicara istimewa, yakni Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Dian Wirengjurit, serta akademisi Miftah Farid dari UIN Alauddin Makassar.

Duta Besar Dian Wirengjurit mengetengahkan bahwa dalam melihat konflik Iran dan Amerika Serikat, tidak bisa dilihat dari perspektif barat, justru Dian mengetengahkan bahwa perspektif alternatif diperlukan agar melihat konflik ini lebih jernih. Seperti misalnya, apakah Iran memang memiliki senjata nuklir seperti yang dituduhkan negara-negara barat, Dian mengatakan Iran tidak dalam mengembangkan senjata nuklir, namun mampu meningkatkan pengayaan uranium sampai pada titik senjata nuklir.

Sementara Miftah Farid mengatakan bahwa dalam perspektif realis, sejatinya apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat adalah sebuah kebutuhan mengingat tidak boleh ada hegemoni lain di wilayah Timur Tengah selain Amerika Serikat, jika ada dominasi lain maka siap-siap saja kawasan itu akan penuh dengan konflik.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *