
Kemenangan Donald James Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2024 memantik serangkaian pertanyaan besar. Selain memiliki latar belakang orang bisnis, yang menggunakan logika untung rugi, Trump juga dikenal memiliki karakter megalomaniac, yang sangat haus akan pujian, penguasaan, namun acapkali delusional. Bagaimana nasib dunia di tangan Trump periode kedua ini? Tema besar inilah yang coba diangkat dalam Open Academic Forum yang digelar oleh CIRES (Center of International Relations and Regional Studies) Universitas Sulawesi Barat.
Bertempat di Cafe Olang Mesa di tepi perbukitan Teluk Mandar pada tanggal 11 Juni 2025, acara ini menghadirkan Muhammad Nasir Badu selaku Ahli Hubungan Internasional dari Universitas Hasanuddin yang juga Kepala LPPM Universitas Sulawei Barat. Ada juga Danar Hafidz Adi Wardhana selaku Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Sulawesi Barat dan Saomi Rizqiyanto selaku ahli Kajian Amerika sekaligus Direktur CIRES UNSULBAR.
Menurut Saomi Rizqiyanto, Perang Dagang adalah bukti nyata bahwa Trump adalah seorang pebisnis yang menggunakan logika ‘untung-rugi’ dalam menjalankan politik luar negeri Amerika Serikat. Nilai partai Republik yang sangat konservatif dan mengutamakan trade, business dan profit, turut membukakan jalan kebijakan Trump yang ugal-ugalan dalam menentukan tarif. Sangat mudah bagi Trump menentukan tarif imbal balik bagi suatu negara yang tidak mau mengikuti agenda Trump.




Tapi sangat aneh apabila, penentuan Tarif ini semata hanya memenuhi ego dari seorang Donald Trump. Beberapa kali Trump mengisyaratkan kalau setiap negara yang datang kepadanya dan melakukan negosiasi akan mendapatkan keringanan tarif, hal ini adalah bentuk dari komunikasi politik narsistik yang ingin mengatakan “saya berkuasa atasmu, tapi kalau kamu datang meminta keringanan, you can kiss my ass” sebuah ungkapan yang mencerminkan ketidaksetaraan dalam hubungan antar negara, tapi lebih menekankan pada asas ego dari pemimpin.
Danar Wardhana pembicara lain dalam forum ini berbicara lebih pada fokus Amerika Serikat dalam mengamankan kawasan Asia Pasifik sebagai bagian dari keamanan nasional Amerika. Bagaimanapun Taiwan adalah bagian dari rantai pasok utama produk teknologi Amerika, dan mau tidak mau, Amerika Serikat dibawah Donald Trump akan lebih memprioritaskan keamanan Taiwan dibandingkan kawasan lain.
Open Academic Forum sendiri adalah forum akademik yang terbuka terhadap setiap isu dan terbuka terhadap semua sudut pandang. Pertama kali digagas oleh pendiri Open Academic Society, Saomi Rizqiyanto pada tahun 2017 di Jakarta. Kali ini Open Academic Forum digagas dan dihelat oleh CIRES UNSULBAR yang bekerjasama dengan Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Hukum, Universitas Sulawesi Barat.